skip to main |
skip to sidebar
6:43 PM

Suatu ketika seorang ayah dari keluarga kaya raya, bermaksud memberi
pelajaran bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya. Merekapun
menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yang miskin di sebuah
dusun di tepi hutan.
Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya
pada anaknya. "Bagaimana perjalanan kita?" Jawab sang Anak, "Oh sangat
menarik ayah."
"Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?" Sang ayah bertanya.
"Ya ayah", sahut sang anak.
"Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?" Tanya sang ayah.
Sang anak menjawab, "Yang saya pelajari kita memiliki satu anjing untuk
menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu. Kita punya
kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas… Kita
punya lampu untuk menerangi taman kita, mereka punya bintang yang
bersinar di malam hari. Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup,
mereka hidup bersama alam. Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi
mereka hidup untuk melayani orang lain. Kita punya pagar yang tinggi
untuk melindungi kita, mereka punya banyak teman yang saling
melindungi".
Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya. Lalu sang anak melanjutkan,
"Terima kasih ayah, karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita".
6:38 PM

Kisah
ini diceritakan oleh Bp Chappy Hakim (mantan KSAU). Pada tahun 1969,
saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan
Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama
dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang
tempat latihan terjun tempur.
Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di
barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan
ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum
berisi sayur, dan disamping nya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk
milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang
dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan
jatah yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk. Sang ibu paruh
baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya.
Setiap
pagi, siang dan malam menjelang waktu makan dia meletakkan karung
plastik berisi krupuk dan disamping nya diletakkan pula kardus bekas
rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah
selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa
kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.
Iseng, saya
tanyakan, apakah ada yang nggak bayar Bu..? Jawabannya cukup
mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia
sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara
demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah
semuanya selesai makan dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk
dan uang hasil jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami
defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar.
Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar
sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya,
dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong
tersebut.
Demikian seterusnya. Beberapa pelatih terjun,
bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang
berlatih disitu dan menginap dibarak latihan tidak ada yang berani
mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu,
khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati
berkalang tanah.
Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa
orang sebenarnya bisa jujur dan dapat dipercaya, hanya karena pintu
kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya
membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan
terjun, mungkinkah...?
sumber : oke2.com
6:43 PM
Indopaskib(9/7) Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran pekerjaan seorang untuk
menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi
kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon
itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore
hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan
memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya
sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah
ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang
bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang
pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap
tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin
sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.
“Sepertinya aku telah
kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat
mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang
pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap
ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan
mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk
setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”.
Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama
kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon
dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama,
menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri,
hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan
waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga
yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah
kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil
mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu
dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Istirahat bukan berarti berhenti
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga
malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan
sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya,
yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah
pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme
kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis,
berwawasan dan selalu baru !
Dari cerita motivasi kerja diatas,
kiranya Anda semua dapat menyimpulkan bagaimana cara kerja yang baik,
tanpa harus selalu menguras tenaga terus menerus, untuk mendapatkan
hasil kerja yang maksimal. Semoga sedikit cerita motivasi kerja ini
dapat menginspirasi kita semua. Amien (oke2.com)
12:17 PM
Nadia mengeluh kepada kekasihnya, setiap kali nadia bertanya kepada
tunangannya. “Kenapa sih kamu kok bisa cinta aku??” Tunangannya hanya
menjawabnya dengan senyuman, bukan sekali atau dua kali, namun puluhan
kali nadia tetap mendapat jawaban yang sama...
Suatu sore Nadia tengah duduk sambil bercerita ala para wanita bersama teman temannya. Fina,Angel, dan Aqila. Nadia iri
terhadap teman-temannya, mereka selalu punya alasan mengapa tunangannya
mereka memiliki alasan setiap kali ditanya, “kenapa kamu cinta aku?”

Fina suka bilang, suka sama dia karena Fina orangnya cantik. Sedangkan
Angel, dia cinta Angel karena Angel anaknya BAIK, ASIK, dan tentu saja
cantik, kemudian Aqila, Aqila bilang, “ suka sama aku gara2 denger aku
jadi vokalis band di kampus, katanya sih suaraku bagus dan unik, dia
selalu bilang.. “bersyukurnya aku, Istri BAIK, CANTIK, PINTER NYANYI
LAGI…”
Sedangkan Nadia - lagi dan lagi tidak punya jawaban,
karena tunangannya tidak pernah mengatakannya. Nadia kecewa... “Berarti
tunangannya tidak mencintaiku lagi” !!! Nadia mengambil garis besar dari
apa yang di alaminya. Mereka semua punya alasan, sedangkan kamu enggak
pernah punya… .. kekasihnya hanya diam.. dia seperti ingin mengatakan
sesuatu kepada Nadia, tapi Nadia tidak memberinya kesempatan. Nadia
melangkah penuh rasa kesal.
Suatu hari Nadia pergi keluar kota
bersama teman2nya. Jalanan penuh dengan kabut tebal, hujan turun sangat
lebat dan Nadia kehilangan control mobilnya... mobil terjun bebas
kedalam jurang.
Gelap...
sunyi...
hilang...
Nadia tersadar dalam keadann yang berbeda, wajahnya penuh luka gores
yang dalam, bekasnya membuat nadia menjerit sejadi jadinya. Tapi lagi
lagi nadia tidak bisa menjerit seperti biasa, lidahnya kelu… dokter
masih kesulitan mengobati saraf lidah miliknya. Ada sesuatu yang salah
pada lidah nadia... ia tidak bisa menggunakannya untuk berbicara..
Belum habis kesedihannya, saat akan melangkah Nadia kesakitan karena
kedua kakinya digips. Ia mengalami patah tulang parah akibat tergencet
dashbor mobilnya. Beruntung orang tuanya tidak mengijinkan dokter untuk
mengamputasi kedua kaki nadia. Nadia benar2 terpukul.
Di tempat
pemulihan, Nadia yang tengah duduk diatas kursi roda, memandangi
hijaunya lembah yang bergurat hebat 4 bulan sudah Nadia berada disana.
Namun Nadia belum merasakan perkembangan yang menggembirakan. Kakinya
masih saja lumpuh, lidahnya masih belum mampu berkata sepatah-pun.
Sedangkan wajahnya, hingga hari itu, Nadia enggan melihat cermin…
Suatu pagi , seorang pemuda datang, ia menghampiri Nadia di tempatnya
biasa duduk. Karena Nadia belum bisa berbicara, maka ia hanya menulis
ucapannya pada selembar kertas.
“Kenapa kamu kesini??
“Aku kesini pengen ketemu kamu Nad..”
“Kemana aja kamu selama ini?? kamu malu ya punya mantan calon istri yang Cacat??
Pemuda itu tersenyum.. “aku enggak malu nad
“Kenapa kamu punya fikiran buat ketemu aku lagi, bukannya dulu aku udah
marahin kamu, apalagi sekarang aku Cacat, aku Buruk dan sudah enggak
bisa apa-apa lagi... aku udah enggak berarti...” nadia menangis…
Pemuda itu memandang lekat wajah Nadia.
“Kamu tau Nad, dulu , aku enggak bisa menjawab ketika kamu selalu
bertanya, mengapa aku mencintai kamu. Kalau dulu kukatakan aku mencintai
kamu karena kamu pandai bernyanyi, tentu setelah keadaan kamu seperti
sekarang, tidak ada alasan lagi bagiku mencintai kamu, kalau kukatan aku
mencintaimu karena kamu pandai manari, masih adakah cintaku setelah
kakimu tidak dapat digerakkan lagi, setidaknya sekarang??? Dan kalau
kukatakan karena wajahmu yang cantik dan menarik, tentu cintaku hilang
setelah wajahmu cacat dan jelek.
“Jadi.. Dari dulu sampai sekarang hingga Nanti. Aku mencintaimu tanpa Alasan.. “aku mencintai apa adanya kamu”
Nadia menangis ..terharu
Cinta adalah Memberi...memberi...dan memberi. Cinta yang murni tidak
pernah meminta, tidak pernah menuntut, ia hadir tanpa pamrih, ia penuh
dengan keiklasan.
Dengan cinta hidup terasa manis. Indah dan
sempurna. Ingat tidak saat masih pacaran. Pacar jerawatan dibilang
sebersih embun, badan pacar gendut dibilang seksi dan menawan dan banyak
lagi pembenaran lainnya. Tapi banyak diantaranya setelah menikah, semua
itu seperti lenyap, kenapa?? “Karena kita memiliki alasan….”
AKU MENCINTAIMU KARENA AKU TAK MEMPUNYAI SATUPUN ALASAN..
BEGITU JUGA AKU.. AKU TAK MEMILIKI SATUPUN ALASAN UNTUK MENINGGALKANMU..
JANGAN BERI AKU ALASAN UNTUK MENCINTAIMU… KARENA KELAK AKU AKAN MENINGGALKANMU DENGAN ALASAN ITU…
(oke2.com)
6:38 PM
Jakarta-Paskibnews(5/7) Alkisah adalah seorang raja yang sangat besar kekuasaannya. Oleh karena
kehidupan yang mewah dan serba cukup tidak membuat ketenangan kepada
jiwanya. Sang raja akhirnya memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa
dengan menyamar sebagai tukang kebun.

Sang Raja akhirnya bekerja di salah seorang saudagar kaya yang mempunyai kebun delima yang cukup luas. Ia pun menjaga
kebun itu dengan patuh dan rajin. Suatu hari datanglah tuan kebun itu
dan meminta pekerja kebun membawakan sebiji delima yang masak lagi manis
kepadanya. Pekerja itu pun segera menuju ranting-ranting delima untuk
mencari buah delima yang paling masak.
Kemudian tuannya memakan
delima tersebut, air mukanya berubah. Kemudian berkata: "Wahai
pekerjaku tolong bawakan kepadaku sebiji delima yang lebih manis dari
ini."
Sekali lagi, sang raja yang menjadi tukang kebun tadi
pergi mencari buah delima yang lain tanpa mengetahui mengapa tuannya
menyuruh dia membawakan sebiji lagi. Setelah buah yang diberikan kepada
tuannya itu dimakan, dengan spontan buah itu dibuang oleh tuannya itu.
Oleh karena terlalu marah sebab buah yang dimakannya itu ternyata masih
masam, ia pun berkata dengan suara yang keras: "Wahai pekerja! Heran
sekali aku melihat engkau. Sudah begini lama engkau menjaga kebunku,
tidakkah engkau tahu yang masam dan manis?"
Lalu jawab sang raja
tadi dengan suara yang lemah dan sopan : "Tuan, bukankah saya ini
diamanahkan untuk menjaga kebun supaya sentiasa subur buah-buahan,
tetapi tuan tidak memberi izin kepada saya untuk mencicipi buahnya."
Betapa terkejutnya tuannya itu setelah mendengar jawaban tersebut.
Tidak terduga sama sekali akan besarnya sifat amanah yang ada pada
tukang kebunnya itu. Namun, alahngkah terkejutnya sang tuan tatkala
mengetahui bahwa pekerja kebunnya adalah seorang raja mahsyur yang
memang tengah mencari kehidupan sebagai rakyat biasa.
Sang tuan
pun akhirnya menyadari bahwa memang pantaslah ia menjadi seorang raja
yang terkenal bijak seantero negri. Jadi rakyat kecilpun beliau bisa
betul-betul menjaga pekerjaannya walau sangat sepele. Ia pun segera
meminta maaf dan sekaligus mendoakan sang raja.
(diilhami dari kisah Ibrahim bin Adham)
****
Sahabatku, kisah tersebut diatas merupakan salah satu refleksi
bagaimana seorang manusia dengan sangat amanah dalam menjalani
pekerjaannya. Bagaimana dengan kita ?
tentu para sahabat sangat
mengerti bagaimana seharusnya kita menjaga amanah dalam setiap
pekerjaan. sekecil apapun itu, namun nilainya sangat berharga. Dari
seorang pekerja bahkan pemimpin pun sangat diperlukan sikap ini.
Kembali kepada hati nurani masing-masing, bagaimana kita bisa jujur
sekecil apapun dengan apa yang kita lakukan, Tentu Tuhan lah yang
menilai dan membalas apa yang kita lakukan.
Sahabatku, sederhana namun bermakna,,,"mulai dari diri kita sendiri dan mulai lah saat ini"
Terima kasih telah membaca dan semoga selalu semangat dalam menjalani hidup..
SALAM MOTIVASI !!!
sumber: facebook